ANTIBIOTIK….NGAWUR…
A : Well, sekarang zamannya buka-bukaan, bukan cuma dari kalangan selebriti yang bisa main buka-bukaan. Menurutku berikutnya yang perlu main buka-bukaan adalah dunia kesehatan Indonesia.
B : Kenapa demikian?
A : Agar manusia Indonesia ini sadar akan pentingnya kesehatan dan dokter beserta tenaga kesehatan lain tidak “bertepuk sebelah tangan”.
B : Lha maksudnya “bertepuk sebelah tangan” ??
A : Maksudnya ya berjuang sendiri begitu, seperti kamu mencintai orang yang tidak mencintaimu(cie ii laaah..) xD
B : Oh mengerti aku maksudmu, jadi maksudmu itu dokter dan tenaga kesehatan memperjuangkan CINTA(visi-misi program kesehatan)nya kepada masyarakat, tapi masyarakatnya “ngeh” kalau dokter begitu menCINTAi mereka. Benar begitu??
A : Bener sekali sobat. Yah kapan ya masyarakat kita bisa sadar akan CINTA ini??
B : (menghela nafas)……. Semoga sob….
Saya akan berbagi kepada anda mengenai penggunaan ANTIBIOTIK di Indonesia. Tentu anda semua sudah familiar dengan nama yang satu ini, yah ada yang menyebutnya obat anti infeksi, obat sakti(maksudnya untuk segala macam penyakit;) dll. Tapi TAHU kah anda, bahwa ternyata di negeri kita tercinta ini penggunaan antibiotik agaknya NGAWUR(baca : tidak sesuai standar)!! Sebelum kita bahas keNGAWURan tersebut kita perlu tahu dulu hal sbb. Penggunaan antibiotik secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Human use : untuk tujuan mengobati infeksi bakterial pada manusia. Antibiotik yang digunakan adalah antibiotik yang telah melewati fase klinik. Di Indonesia, penggunaan antibiotik terbagi 20% di Rumah sakit dan 80% dipopulasi(dari peresepan, beli langsung dari apotek(OTC), dll). Efek bebasnya penggunaan antibiotik di pasaran( 80% di populasi menandakan antibiotik sangat mudah didapatkan di Indonesia-bahkan tanpa resep dokter; tidak percaya?? Silahkan coba sendiri) adalah meningkatnya penggunaan antibiotik yang NGAWUR tadi. Tercatat hampir 50% penggunaan antibiotika pada manusia di Indonesia adalah NGAWUR! Maksudnya ngawur dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.
(courtesy of Iwan D.P, Faculty of Medicine, GMU )
Maksud dari diagram batang ini adalah, penggunaan antibiotik untuk mrngobati gejala batuk pilek pada manusia Indonesia(terutama anak) sangat tinggi; diwakili oleh 5 daerah di Indonesia; Padahal penyakit batuk pilek hampir selalu disebabkan oleh penyebab lain, misalnya infeksi virus, kekurangan cairan, menurunnya daya tahan tubuh, dst. Infeksi bakterial hanya menyumbang di bawah 5% terhadap gejala batuk pilek pada anak. Nah sekarang saya tanya, kira-kira menguntungkan tidak kalau anak anda batuk pilek terus diberi antibiotik?? Kalau masih bingung, coba lihat gambar yang ini :
(courtesy of Iwan D.P, Faculty of Medicine, GMU )
Sudah dapat menjawab pertanyaan di atas?
Baik, penjelasannya begini, garis merah itu adalah pasien yang menggunakan antibiotik doksisiklin, sedangka garis kuning adalah pasien yang hanya mendapat kapsul berisi gula. Pada sumbu X adalah hari semenjak muncul dahak berwarna kuning. Sumbu Y adalah persentase pasien yang memiliki dahak berwarna kuning. Kedua garis (merah dan kuning) berjalan beriringan, yang artinya adalah pasien yang minum antibiotik TIDAK LEBIH CEPAT SEMBUH dari pada pasien yang hanya mendapat gula.
Untung atau rugi kalau begini?? Rugi jelasnya. Karena pasien sembuh pun sebenarnya karena kemampuan sistem kekebalan tubuhnya untuk melawan bakteri, dan ingat bahwa antibiotik memiliki efek samping tertentu, pada anak efek samping lebih sering bermanifestasi. Apalagi di Indonesia juga tercatat kepatuhan pasien untuk minum antibiotik juga NGAWUR, harusnya diminum tiap 8 jam diminum pagi-siang-sore, harusnya diminum selama 5 hari, eh lupa jadi cuma minum 3 hari.
Perlu anda ketahui bahwa salah satu yang ditakutkan adalah masalah RESISTENSI. Jadi ibaratnya karena diberi antibiotik yang NGAWUR(dari pihak dokter maupun pasien yang NGAWUR), si bakteri mendapat efek antibiotik, tapi tidak maksimal, akhirnya karena bakteri tidak mati, maka bakteri akan mengalami mutasi sementara agar pada serangan antibiotik berikutnya dia akan KEBAL, sehingga kalau anda sakit lagi lalu diberi antibiotik yang sama sudah tidak mempan. Tentu harus diberi antiboitik yang lebih KUAT dengan efek samping yang juga LEBIH. Jadi ada beberapa hal yang sebaiknya anda perhatikan :
- Bahwa minum antibiotik harus di HABISKAN sesuai dengan waktu yang ditentukan. Biasanya dokter memberi jumlah yang pas, jadi jangan sampai ada yang tercecer :p
- Minum antibiotik diminum dengan interval yang sama. Misalnya tiap 8 jam, bukannya pagi jam 8, siang jam 1, malam jam 9.
- Minum lebih dari 1 jenis antibiotik hanya diindikasikan untuk penyakit infeksi berat. Misalnya sepsis, infeksi pada saluran pernafasan bawah, typhoid, dll
2. Agricultural Use : ternyata antibiotik juga banyak digunakan dalam peternakan unggas dan peternakan sapi/kambing di Indonesia. Tujuan penggunaan antibiotik adalah untuk meningkatkan produktivitas dan berfungsi sebagai growth promoter; maksudnya untuk memicu pertumbuhan dengan cara membuat hewan-hewan tersebut lebih tahan terhadap infeksi bakteri dengan cara diberi profilaksis antibiotik.
Antibiotik yang diberikan kepada hewan-hewan tersebut sayangnya diberi dengan INTERVAL dan DOSIS yang NGAWUR. Apa hasilnya?? Hasilnya dapat membentuk sisa antibiotik yang banyak terdapat pada daging, organ dalam, dan susu(pada sapi/kambing). Produk-produk tersebut lalu diolah dan dikonsumsi manusia, sehingga sama saja manusia mengkonsumsi antibiotik secara tidak langsung.
Berikut ini adalah kutipan dari sebuah artikel di web tempo interaktif :
Riani Susanto, dokter naturopati, enggan memberikan anaknya susu sapi hasil perahan industri. Menurut dia, selama cukup mengkonsumsi makanan sehat dan berkualitas, orang akan tetap sehat. Dia memandang susu bukan sebagai makanan pokok. Ia lebih memilih memberi keluarganya susu organik.
Pasalnya, dia melihat ketidakwajaran dalam proses industri sapi perahan. Menurut Riani, proses pemerahan susu sapi dari industri itu dipaksakan. Alaminya, kalau sapi–seperti juga manusia–melahirkan dahulu, baru mengeluarkan susu. Tapi demi mengejar target, sapi disuntik hormon tertentu agar bisa menghasilkan susu. Otomatis susu mengandung hormon. “Apalagi sapi juga diberi antibiotik untuk mencegah infeksi,” ujar Riani.
Jadi ternyata bukan hanya penggunaan antibiotik secara medis saja yang dapat menyebabkan kasus resistensi, tapi juga penggunaan dalam bidang agrikultural. Coba lihat gambar berikut :
coba lihat, bagaimana padatnya 1 peternakan ayam ini, penggunaan antibiotik adalah sebuah “kebutuhan” karena kalau tidak diberikan, maka penyebaran penyakit menular akan berlangsung sangat cepat.
ATAU gambar ini
![]()
Jadi demikian realita yang kita hadapi bersama, bahwa antibiotik di Indonesia itu MAHAL, peresepannya masih banyak yang NGAWUR, cara minum obatnya juga masih banyak yang NGAWUR, penggunaan pada ternak juga masih NGAWUR dan akhirnya banyak muncul resistensi antibiotik pada mikrobial di Indonesia. Mari kita berharap dan berdoa semoga dokter-dokter Indonesia di masa akan datang(termasuk generasi saya) menyadari hal-hal di atas sehingga tidak lagi NGAWUR dalam peresepan antibiotik dan dapat membantu pasien agar tidak NGAWUR minum antibiotik.
Nuwun..









